Kolaka, Darktenggara.com – Musim tanam kembali tiba. Hamparan sawah mulai dipersiapkan, benih telah tersedia, dan para petani bersiap mengolah lahan. Namun, harapan itu kini dibayangi persoalan sulitnya memperoleh solar bersubsidi yang menjadi bahan bakar utama traktor pertanian. Minggu (28/06/2026)/
Sejak pagi hari, antrean panjang terlihat di sejumlah SPBU. Puluhan warga membawa jeriken untuk mendapatkan solar, namun tidak sedikit yang harus pulang tanpa membawa bahan bakar. Kondisi ini membuat banyak traktor tidak dapat beroperasi sehingga proses pengolahan lahan terhambat.
Seorang petani asal Kecamatan Samaturu, Muhammad Ridho, mengaku khawatir keterlambatan memperoleh solar akan berdampak langsung pada jadwal tanam.
"Kalau begini terus, kami terlambat menanam. Hasil panen pasti berkurang," ujarnya.
Menurutnya, setiap hari keterlambatan mengolah sawah memiliki konsekuensi besar bagi petani. Mundurnya masa tanam tidak hanya berpotensi menurunkan produktivitas hasil panen, tetapi juga memperbesar beban ekonomi keluarga yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian.
Di tengah kesulitan tersebut, masyarakat juga menyoroti dugaan adanya persoalan dalam distribusi BBM bersubsidi. Berbagai informasi yang beredar di tengah masyarakat memunculkan harapan agar pemerintah dan aparat penegak hukum melakukan pengawasan yang lebih ketat serta penyelidikan apabila ditemukan indikasi penyimpangan.
Warga berharap distribusi solar bersubsidi dapat berjalan tepat sasaran sehingga benar-benar dinikmati oleh petani sebagai kelompok yang menjadi prioritas penerima. Mereka menilai kelancaran pasokan BBM merupakan faktor penting dalam menjaga keberlangsungan aktivitas pertanian, khususnya pada awal musim tanam.
Bagi petani, solar bukan sekadar bahan bakar, melainkan penentu dimulainya siklus produksi pangan. Ketika traktor berhenti karena kehabisan solar, sawah tidak dapat segera diolah, masa tanam tertunda, dan hasil panen berpotensi menurun. Jika kondisi ini terus berlangsung, dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga dapat memengaruhi ketahanan pangan di daerah.
Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memastikan ketersediaan dan distribusi solar bersubsidi berjalan lancar, transparan, serta tepat sasaran, agar para petani dapat kembali mengolah sawah tanpa terkendala pasokan bahan bakar.
(*)
