Darktenggara - Ada jenis pengetahuan yang hanya bisa diperoleh dengan cara memikul, bukan dengan cara membaca. Saya baru memahami itu setelah amanah menjadi penanggung jawab teknis Muhibah dan Studi Budaya Lintas Flores dijatuhkan ke pundak saya, dan saya mendapati diri saya berdiri di hadapan daftar yang tidak pernah benar-benar selesai tiket, hotel, konsumsi, jadwal, koordinasi yang harus diulang berkali-kali dengan kesabaran yang terus-menerus diuji. Di atas kertas, semua itu tampak seperti pekerjaan administratif biasa. Tetapi di balik setiap detail kecil itu, saya belajar bahwa ada tanggung jawab yang jauh lebih besar dari kertas mana pun yang bisa menampungnya.
Malam-malam menjelang keberangkatan mengajarkan saya sesuatu yang, tanpa saya sadari waktu itu, kelak menjadi benang merah dari seluruh perjalanan ini: bahwa kesediaan memikul hal-hal kecil dengan sungguh-sungguh adalah satu-satunya jalan menuju hal-hal besar. Tidak ada pengetahuan tentang alam, tentang kebudayaan, tentang diri sendiri, yang bisa diperoleh tanpa terlebih dahulu bersedia lelah karena hal-hal yang tampak remeh. Perjalanan besar, saya pikir, selalu dimulai dari ketekunan yang tidak menuntut untuk segera dimengerti maknanya.
Ada semacam paradoks yang menyertai setiap amanah besar: semakin berat tanggung jawab yang dipikul, semakin kecil ruang yang tersisa untuk memikirkan makna di baliknya. Saya menghabiskan berminggu-minggu memikirkan logistik, tetapi nyaris tidak pernah bertanya kepada diri sendiri apa sesungguhnya yang sedang saya persiapkan selain keberangkatan itu sendiri. Baru belakangan saya sadari, persiapan teknis yang melelahkan itu adalah bentuk pertama dari sebuah disiplin yang jauh lebih besar, disiplin untuk hadir sepenuhnya pada sesuatu yang belum saya pahami maknanya, dan mempercayai bahwa makna itu akan menyusul, bukan mendahului, tindakan.
Filsuf mana pun yang pernah menulis tentang perjalanan akan sepakat pada satu hal: bahwa perjalanan yang sesungguhnya tidak pernah dimulai dari niat yang sudah jernih, melainkan dari kesediaan untuk berangkat sebelum semuanya benar-benar dimengerti. Saya berangkat bukan sebagai seseorang yang tahu apa yang akan ditemukannya, melainkan sebagai seseorang yang bersedia dibentuk oleh apa yang belum diketahuinya. Dalam pengertian itu, amanah yang saya pikul bukan hanya soal logistik pelayaran dan jadwal kunjungan, melainkan juga semacam latihan awal untuk kerendahan hati, kesediaan mengakui bahwa betapapun rapi sebuah rencana disusun, ada bagian dari pengalaman yang hanya bisa dipahami setelah dijalani, bukan sebelum.
Ketika kapal akhirnya berangkat dan Pelabuhan Soekarno-Hatta menjadi titik yang perlahan menjauh di belakang kami, saya tidak tahu bahwa yang sedang saya tinggalkan bukan hanya sebuah kota, juga sebuah cara memandang dunia yang, dalam beberapa hari ke depan, akan diguncang pelan-pelan oleh laut, oleh manusia, dan oleh sesuatu yang, belakangan, saya sebut dengan nama yang mungkin terdengar terlalu besar untuk pengalaman sesederhana ini: ekoteologi. Saya tidak berangkat untuk mencarinya. Ia yang, pelan-pelan, menemukan saya, di sela-sela kelelahan, di sela-sela ketakutan kecil, di sela-sela momen yang tidak pernah saya rencanakan untuk menjadi penting.
Bagian I
Begitu dermaga menghilang dari pandangan, saya menyadari sesuatu yang aneh: tidak ada lagi yang bisa saya kerjakan selain menunggu. Sepanjang hidup saya di darat, waktu selalu penuh dengan hal yang harus segera diselesaikan. Di laut, waktu berhenti menuntut apa pun, dan kekosongan itu, anehnya, terasa lebih berat daripada kesibukan yang saya tinggalkan.
Di sanalah saya mulai memahami bahwa laut bukan sekadar jarak yang harus ditempuh untuk sampai ke tujuan. Ia adalah ruang yang melucuti. Di darat, jarak sosial ditopang oleh banyak struktur yang bekerja diam-diam: rumah masing-masing, jadwal masing-masing, jabatan yang membedakan cara orang saling menyapa. Di atas kapal, struktur-struktur itu menyusut drastis. Seorang bapak yang di darat selalu tampak serius, saya temui duduk bersila di lantai geladak, tertawa lepas setiap kali kalah bermain kartu. Rasanya seperti melihat seseorang melepas jaket yang selama ini dipakainya, dan menemukan bahwa di baliknya ia jauh lebih sederhana dari yang saya kira.
Saya bertanya-tanya, kenapa kedekatan semacam ini bisa tumbuh begitu cepat, ketika di darat butuh waktu bertahun-tahun untuk mengenal seseorang di luar perannya. Jawaban yang saya temukan cukup mengejutkan kesederhanaannya: di laut, tidak ada tempat untuk mundur. Tidak ada rumah untuk pulang, tidak ada kamar untuk menutup pintu. Kita semua terjebak dalam ruang yang sama, mau tidak mau, dan mungkin justru karena terjebak itulah kita akhirnya benar-benar saling melihat.
Malam-malam di laut menghadirkan kualitas waktu yang berbeda. Tanpa lampu kota yang mengganggu langit, bintang muncul dalam jumlah yang membuat saya berdiri lama hanya untuk menatapnya, dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam obrolan malam "kalau bisa memilih, mau tinggal di laut terus atau buru-buru sampai?" mengungkap sesuatu yang jujur tentang keadaan "belum sampai" ini: semua orang sedang berada dalam posisi yang sama, sama-sama tidak punya kendali penuh atas kapan semuanya akan berakhir. Ada kelegaan aneh dalam ketidakberdayaan yang dijalani bersama.
Tentu, tidak semuanya nyaman. Ketika ombak lebih besar dari biasanya dan hampir separuh rombongan mabuk laut, saya belajar betapa kecilnya saya di hadapan sesuatu yang tidak peduli pada rencana manusia. Tapi justru di hari-hari sulit itulah saya melihat sisi lain dari kebersamaan yang tumbuh di kapal: air hangat yang dibawakan tanpa diminta, obat yang ditawarkan oleh orang yang baru beberapa hari saya kenal, kehadiran yang tidak banyak bicara tapi memastikan saya tidak sendirian menghadapi rasa tidak enak badan itu. Di darat, saya mungkin akan menghadapi hal yang sama sendirian, bukan karena tidak ada yang peduli, tapi karena semua orang punya urusan sendiri yang menuntut perhatian mereka. Di laut, untuk sementara waktu, urusan itu ditangguhkan.
Ada yang ingin saya sebut, meski dengan hati-hati, sebagai etika keterpaksaan, sebuah moralitas yang tidak lahir dari ajaran yang diucapkan, melainkan dari kondisi yang tidak memberi pilihan lain selain saling menjaga. Saya tidak yakin apakah kebaikan yang tumbuh di tengah laut itu benar-benar "lebih murni" daripada kebaikan yang kita praktikkan di darat, sebagaimana sering diklaim orang-orang yang merindukan kesederhanaan hidup di alam. Yang bisa saya katakan dengan lebih yakin adalah bahwa laut menyingkap sesuatu yang di darat sering tertutup oleh terlalu banyak pilihan: bahwa kepedulian, pada akarnya, tidak pernah membutuhkan alasan yang rumit. Ia hanya membutuhkan kedekatan yang cukup lama, dan kesediaan untuk tidak buru-buru pergi.
Saya mulai curiga, bahwa yang saya alami bukan semata fenomena sosial, tapi sesuatu yang menyentuh wilayah yang lebih dalam, wilayah yang oleh banyak tradisi keagamaan disebut sebagai fitrah, kecenderungan asali manusia untuk saling menjaga, yang selama ini tertutup oleh lapisan-lapisan kepentingan yang kita bangun di darat. Laut, dengan caranya yang kasar dan tidak berbasa-basi, mengupas lapisan-lapisan itu satu per satu, tanpa peduli apakah kami siap atau tidak untuk ditemukan telanjang seperti itu.
Bagian II
Ada satu asumsi yang jarang dipertanyakan setiap kali sebuah lembaga pendidikan keagamaan menyelenggarakan perjalanan lintas wilayah dengan label muhibah atau studi budaya: bahwa perjalanan semacam ini pada dasarnya adalah agenda silaturahmi dan pelestarian budaya, dengan alam berperan sebagai latar yang menyertainya, bukan sebagai subjek yang berbicara sendiri. Gunung, laut, dan lanskap yang dilalui rombongan dipahami sebagai pemandangan, sesuatu yang memperindah perjalanan, memberi jeda dari agenda yang lebih "serius" seperti kunjungan lembaga pendidikan atau silaturahmi antarorganisasi. Alam hadir, tetapi ia hadir sebagai dekorasi, bukan sebagai mitra dialog.
Asumsi ini tidak keliru dalam pengertian teknis. Tujuan institusional dari perjalanan semacam ini memang biasa dirumuskan dalam bahasa dakwah, ukhuwah, dan pelestarian jejaring, bukan dalam bahasa ekologi atau teologi lingkungan. Persoalannya bukan pada ketidaktepatan tujuan itu, melainkan pada kecenderungan diam-diam yang menyertainya: bahwa nilai kebudayaan, nilai kerukunan, dan pengalaman terhadap alam diperlakukan sebagai tiga ranah yang berdiri sejajar tetapi terpisah, masing-masing dengan logika kepentingannya sendiri.
Cara memandang ini punya akar yang cukup dalam pada wacana keagamaan modern secara umum, yang cenderung memisahkan urusan ibadah dan sosial-kemasyarakatan dari urusan ekologis, seolah keduanya adalah dua kompartemen berbeda yang kebetulan bertemu dalam satu perjalanan yang sama. Ekoteologi, upaya membaca kembali relasi antara manusia, alam, dan Yang Ilahi sebagai satu jalinan yang tidak terpisahkan, jarang menjadi kerangka bawaan dalam merumuskan atau mengevaluasi kegiatan semacam ini. Ia biasanya baru dipanggil belakangan, sebagai lensa tambahan yang diterapkan setelah kegiatan selesai, bukan sebagai asumsi dasar yang membentuk cara perjalanan itu sendiri dirancang dan dimaknai.
Memetakan posisi dominan ini penting bukan untuk menghakiminya sebagai keliru, melainkan untuk menunjukkan ada ruang kosong di dalamnya, ruang yang, jika diisi, bisa mengubah cara kita membaca ulang apa yang sebenarnya terjadi ketika sekelompok orang berpindah dari satu pulau ke pulau lain, melewati laut yang tidak selalu ramah, singgah di tempat-tempat yang punya sejarah keagamaan dan kosmologi sendiri, dan kembali dengan cara yang tidak sepenuhnya sama seperti saat mereka berangkat.
Ruang kosong ini punya sejarah panjang dalam pemikiran keagamaan secara umum, jauh melampaui konteks satu perjalanan tunggal. Sejak lama, banyak tradisi teologis, baik yang berasal dari rumpun Ibrahimi maupun dari kosmologi lokal Nusantara, sesungguhnya menyimpan gagasan tentang alam sebagai tanda, sebagai ayat, sebagai sesuatu yang menyampaikan pesan kepada siapa pun yang bersedia membacanya. Tetapi gagasan ini, dalam praktik keseharian, sering tenggelam oleh urgensi yang lebih mendesak: soal ibadah personal, soal relasi sosial-kemasyarakatan, soal politik identitas.
Alam menjadi semacam latar belakang teologis yang diakui keberadaannya secara doktrinal, tetapi jarang benar-benar dijadikan mitra berpikir dalam merancang kegiatan-kegiatan keagamaan yang konkret. Ironisnya, semakin sebuah tradisi keagamaan menegaskan bahwa alam adalah tanda kebesaran Yang Ilahi, semakin ia justru berisiko memperlakukan alam sebagai simbol yang sudah selesai dimaknai, sesuatu yang cukup diakui secara verbal, tanpa perlu terus-menerus didengarkan secara aktif.
Di sinilah letak persoalan yang ingin diangkat tulisan ini: bukan bahwa perjalanan seperti Muhibah Lintas Flores gagal menghadirkan dimensi ekologis, melainkan bahwa dimensi itu hadir secara implisit, tanpa pernah benar-benar dirumuskan sebagai bagian dari kesadaran yang disengaja. Ia ada di sana, dalam setiap persinggahan, dalam setiap danau dan pantai yang disinggahi, dalam setiap ritual adat yang disaksikan, tetapi ia menunggu untuk dibaca, bukan sekadar dilewati.
Bagian III
Ketegangan mulai tampak begitu pertanyaan diajukan: apakah alam, dalam perjalanan semacam ini, berfungsi sebagai ruang yang dilalui, atau sebagai sesuatu yang turut membentuk apa yang terjadi di dalamnya? Pertanyaan ini terdengar seperti soal penekanan retoris, tetapi konsekuensi logisnya cukup jauh jangkauannya.
Jika alam diperlakukan sebagai latar, pendekatan instrumental, maka pengalaman terhadap gunung, danau, atau laut dinilai berdasarkan fungsinya bagi tujuan lain: memperindah dokumentasi, memberi kesegaran psikologis, menjadi bumbu naratif dalam laporan kegiatan. Seandainya perjalanan yang sama dilakukan di lanskap yang jauh berbeda, nilai inti dari kegiatan itu dianggap tidak akan banyak berubah. Yang penting adalah pertemuan antarmanusia; alam hanya kebetulan menjadi panggungnya.
Pendekatan kedua, yang lebih dekat dengan cara berpikir ekoteologis, menolak premis ini. Baginya, tempat tidak pernah netral terhadap apa yang terjadi di atasnya. Sebuah danau vulkanik yang oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai persemayaman arwah leluhur tidak bisa diperlakukan setara dengan taman kota yang dirancang semata untuk kenyamanan visual. Demikian pula situs pemakaman yang dipercaya sebagai jejak paling awal masuknya suatu ajaran ke sebuah wilayah: tanah tempat situs itu berdiri bukan sekadar koordinat geografis, melainkan arsip hidup yang menyimpan sejarah keimanan sebuah komunitas. Memindahkan kegiatan yang sama ke tempat lain, dalam logika ini, bukan sekadar mengganti latar, ia mengubah struktur pengalaman itu sendiri, karena tempat bukan wadah pasif, melainkan partisipan aktif dalam membentuk makna.
Konsekuensi dari kedua pendekatan ini menyentuh persoalan yang lebih mendasar: bagaimana kita memahami asal-usul nilai seperti kerukunan. Pendekatan instrumental cenderung menjelaskan kerukunan antarumat beragama yang ditemui sepanjang perjalanan, terutama di kawasan yang secara demografis didominasi pemeluk agama berbeda dari rombongan yang datang, sebagai hasil kebijakan sosial-politik atau kesantunan lokal yang diwariskan secara kultural. Penjelasan ini masuk akal dan tidak perlu ditolak. Tetapi pendekatan ekoteologis mengajukan penjelasan tambahan yang, jika dipikirkan lebih jauh, punya implikasi lebih tajam: bahwa kerukunan yang tumbuh di kawasan yang kehidupannya masih sangat bergantung pada alam, pada musim tangkap ikan, pada cuaca yang menentukan hasil panen, pada laut yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi ancaman, bukan semata hasil dari nilai yang diajarkan, melainkan konsekuensi struktural dari cara masyarakat memahami posisinya di hadapan sesuatu yang jauh lebih besar dan tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.
Implikasi dari klaim ini cukup berat untuk diterima begitu saja. Jika kerukunan semacam ini lahir dari ketergantungan bersama terhadap alam yang tidak seragam dan tidak sepenuhnya bisa diprediksi, maka ia berpotensi menjadi sesuatu yang sulit dipindahkan begitu saja ke konteks lain yang relasi masyarakatnya dengan alam sudah jauh lebih termediasi, kawasan urban, misalnya, di mana kebutuhan pangan dan air tidak lagi terasa bergantung langsung pada musim. Mengambilnya sebagai model yang bisa "diterapkan" begitu saja di tempat lain, sebagaimana sering diklaim dalam laporan kegiatan semacam ini, adalah langkah yang terlalu tergesa-gesa.
Perlu ditambahkan satu lapisan lagi pada argumen tentang kerukunan struktural ini, karena tanpanya, argumen tersebut berisiko terdengar seperti determinisme geografis yang terlalu sederhana, seolah masyarakat pesisir dan kepulauan "secara otomatis" lebih toleran hanya karena tinggal dekat laut. Klaim yang lebih hati-hati bukanlah bahwa kedekatan dengan alam menjamin kerukunan, melainkan bahwa ia menciptakan syarat yang lebih memungkinkan bagi kerukunan untuk tumbuh, syarat yang tetap membutuhkan kehendak manusia untuk diaktualisasikan. Ketergantungan bersama terhadap alam yang tidak bisa dikendalikan hanya menyingkirkan sebagian penghalang struktural terhadap kedekatan sosial; ia tidak menciptakan kedekatan itu sendiri secara otomatis. Ada banyak contoh masyarakat pesisir di berbagai belahan dunia yang, meski hidup dalam ketergantungan serupa terhadap alam, tetap mengalami konflik sosial yang tajam. Maka yang lebih tepat dikatakan adalah bahwa alam membuka pintu, bukan memaksa orang untuk melewatinya.
Ketegangan lain muncul ketika alam tidak hanya dipahami sebagai sumber harmoni, tetapi juga sebagai sumber ancaman. Di satu titik perjalanan, rombongan berhadapan dengan ingatan kolektif tentang bencana besar yang pernah melanda kawasan pesisir, gempa dan gelombang yang meluluhlantakkan permukiman dalam hitungan menit. Kehadiran ingatan semacam ini menantang kecenderungan ekoteologi untuk terlalu cepat merayakan alam sebagai sumber kedamaian. Jika alam benar-benar diperlakukan sebagai subjek yang aktif, ia juga harus diakui sebagai subjek yang bisa menghancurkan, bukan hanya menenangkan.
Persoalan ini membawa kita pada apa yang bisa disebut sebagai masalah teodisi ekologis, versi ekologis dari pertanyaan lama tentang bagaimana penderitaan bisa dijelaskan dalam kerangka kepercayaan terhadap Yang Maha Pengasih. Jika alam dipahami sebagai tanda dan ciptaan yang membawa pesan Ilahi, bagaimana menempatkan bencana yang meruntuhkan ribuan kehidupan dalam kerangka yang sama? Ekoteologi yang jujur tidak bisa menjawab pertanyaan ini dengan penyelesaian yang terlalu cepat, misalnya, dengan mengatakan bahwa bencana adalah "ujian" atau "peringatan" semata, sebuah jawaban yang sering kali lebih berfungsi menenangkan yang bertanya daripada benar-benar menghormati yang menderita. Yang lebih jujur, barangkali, adalah membiarkan dua kebenaran berdiri berdampingan tanpa dipaksa berdamai: bahwa alam adalah sumber kehidupan dan pelajaran spiritual, dan pada saat yang sama, alam adalah sesuatu yang keberadaannya melampaui kategori baik dan buruk yang biasa kita pakai untuk menilai tindakan manusia.
Ada pula ketegangan ketiga yang lebih halus, menyangkut arah pengaruh antara tempat dan gagasan. Dalam sejarah, seorang tokoh nasional pernah menjalani masa pengasingan di salah satu kota kecil di kawasan ini, dan periode itu diyakini banyak sejarawan sebagai masa pematangan gagasannya tentang dasar kebangsaan yang mengakomodasi keberagaman. Pembacaan konvensional menempatkan gagasan besar semacam itu sebagai produk murni pemikiran individu, dengan tempat pengasingan hanya berfungsi sebagai catatan biografis yang kebetulan terjadi di sana. Pembacaan ekoteologis mengajukan kemungkinan yang lebih radikal: bahwa keterasingan dari pusat kekuasaan, dikombinasikan dengan kedekatan yang dipaksakan terhadap alam dan masyarakat yang religiusitasnya berbeda, bukan sekadar kebetulan biografis, melainkan kondisi yang secara struktural memungkinkan lahirnya gagasan tentang kebinekaan yang lebih matang.
Klaim ini tidak bisa dibuktikan secara kausal-ketat, sejarah pemikiran jarang bisa direduksi menjadi hubungan sebab-akibat yang linear, dan selalu ada risiko membaca sejarah secara terlalu rapi demi mendukung tesis yang sudah lebih dulu diyakini. Tetapi kehati-hatian metodologis ini tidak seharusnya membuat kita berhenti mempertimbangkan kemungkinan tersebut sama sekali. Ada pola yang cukup konsisten dalam sejarah pemikiran manusia secara umum: bahwa gagasan-gagasan besar tentang keterbukaan dan keberagaman lebih sering lahir dari pengalaman keterasingan dan perjumpaan yang dipaksakan, ketimbang dari kenyamanan yang homogen. Seseorang yang tidak pernah terlempar keluar dari lingkaran yang dikenalnya, yang tidak pernah dipaksa hidup berdampingan dengan yang berbeda, jarang memiliki alasan eksistensial yang cukup kuat untuk benar-benar memikirkan ulang batas-batas identitasnya sendiri. Pengasingan, dengan segala kepahitannya, barangkali adalah salah satu bentuk ekoteologi yang paling tidak disengaja, sebuah pemaksaan oleh keadaan untuk hidup dalam jaringan alam dan masyarakat yang tidak dipilih sendiri, dan justru dari situlah kesadaran tentang keterhubungan yang lebih luas bisa tumbuh.
Ada satu ketegangan terakhir yang layak disinggung sebelum berpindah ke refleksi penutup, ketegangan yang lebih halus karena tidak menyangkut argumen konseptual, melainkan medium yang dipakai untuk menyampaikannya. Sepanjang persinggahan di berbagai desa, rombongan berulang kali disambut oleh tarian dan tabuhan musik tradisional yang mengiringi setiap upacara penerimaan. Ada godaan untuk memperlakukan pertunjukan semacam ini sebagai hiburan budaya semata, sesuatu yang menyenangkan untuk disaksikan dan didokumentasikan, tetapi tidak benar-benar mengandung muatan pengetahuan yang setara dengan kunjungan ke lembaga pendidikan atau situs sejarah.
Godaan ini perlu ditahan dengan alasan yang sama seperti godaan untuk memperlakukan alam sebagai latar pasif. Tarian dan musik tradisional jarang lahir dari ruang kosong. Ia biasanya adalah hasil endapan panjang dari pengalaman masyarakat terhadap musim, panen, laut, dan siklus hidup yang berulang, pengetahuan ekologis yang, alih-alih dituliskan dalam traktat atau kitab, diwariskan lewat gerak tubuh dan ritme yang diulang dari generasi ke generasi. Membaca tarian penyambutan hanya sebagai pertunjukan estetis sama dengan membaca kitab suci hanya sebagai karya sastra: teknis benar, tetapi kehilangan dimensi yang justru membuatnya bertahan selama itu. Tubuh yang menari dan tangan yang menabuh gendang, dalam kerangka ini, adalah arsip hidup yang setara nilainya dengan situs pemakaman atau catatan sejarah tertulis, hanya saja arsip ini disimpan dalam otot dan ingatan kolektif, bukan dalam kertas atau batu nisan.
Bagian IV
Jika ketiga ketegangan ini dibiarkan berdampingan tanpa dipaksa berdamai, apa yang tersisa bukanlah kesimpulan yang rapi tentang bagaimana seharusnya ekoteologi dipahami dalam konteks perjalanan lintas budaya semacam ini. Yang tersisa justru kesadaran bahwa kerangka ekoteologis, jika diterapkan secara jujur, tidak bisa berhenti pada perayaan terhadap harmoni antara manusia dan alam semata. Ia harus juga menampung kenyataan bahwa alam bisa menjadi sumber trauma, bahwa kerukunan yang tumbuh dari kedekatan ekologis mungkin tidak semudah itu dipindahkan ke konteks lain, dan bahwa hubungan antara tempat dan gagasan besar manusia mungkin jauh lebih erat daripada yang biasa diakui.
Sikap kritis yang ingin ditawarkan bukan penolakan terhadap kerangka ekoteologis, melainkan kehati-hatian terhadap kecenderungannya untuk terlalu cepat menyimpulkan harmoni. Ada godaan untuk menyusun narasi yang terlalu rapi: alam mengajarkan kerendahan hati, kebudayaan mengajarkan penghormatan, kerukunan tumbuh secara alami, dan semuanya berujung pada kesimpulan yang menenangkan tentang keselarasan kosmis. Narasi semacam itu menarik untuk dibaca, tetapi berisiko menyembunyikan bagian paling penting dari pembacaan ekoteologis yang jujur: bahwa relasi manusia-alam-Yang Ilahi tidak pernah sepenuhnya harmonis, dan ketegangan di dalamnya justru adalah bagian paling produktif untuk terus dipikirkan, bukan buru-buru diselesaikan.
Ada satu pertanyaan lanjutan yang layak dibiarkan menggantung, alih-alih dijawab dengan tergesa: jika ekoteologi menuntut kita mendengarkan alam sebagai subjek yang berbicara, bagaimana kita bisa yakin bahwa yang kita dengar adalah suara alam itu sendiri, dan bukan proyeksi dari harapan dan ketakutan kita sendiri yang dipantulkan kembali dan disangka datang dari luar? Ini bukan pertanyaan retoris yang bisa disingkirkan dengan jawaban meyakinkan. Ia adalah pengingat bahwa setiap pembacaan terhadap alam sebagai teks, sebagaimana dilakukan sepanjang tulisan ini, selalu berisiko menjadi cermin bagi si pembaca, bukan jendela menuju yang dibaca. Kerendahan hati yang dituntut oleh ekoteologi, dengan demikian, bukan hanya kerendahan hati di hadapan alam, melainkan juga kerendahan hati terhadap keterbatasan kita sendiri dalam menafsirkannya.
Epilog: Pulang dengan Cara yang Berbeda
Ketika perjalanan mulai mendekati akhir, saya menyadari saya tidak lagi sama seperti saat berangkat. Bukan dalam pengertian yang bisa dijelaskan secara tuntas, hanya sesuatu yang telah bergeser, halus tapi nyata, di cara saya membaca tanggung jawab, di cara saya membaca orang, di cara saya membaca alam yang selama ini saya anggap sekadar latar bagi kehidupan manusia.
Pulang, saya pikir sekarang, bukan sekadar kembali ke titik keberangkatan. Sebab subjek yang kembali tidak pernah benar-benar identik dengan subjek yang berangkat, "rumah yang sama" itu sendiri menjadi sesuatu yang harus dibaca ulang, bukan ditemukan utuh seperti semula. Saya membawa pulang suara laut, wajah-wajah yang saya temui, dan ingatan tentang seseorang yang kehadirannya mengajarkan saya bahwa kekaguman bisa tumbuh tanpa harus diumumkan. Saya juga membawa pulang kesadaran bahwa alam bukan latar yang diam, melainkan mitra yang berbicara — kadang lembut, kadang keras, tapi tidak pernah benar-benar netral terhadap apa yang terjadi di atasnya.
Ada rasa sedih yang samar setiap kali saya memikirkan bahwa kedekatan yang tumbuh di kapal, baik kedekatan kolektif seluruh rombongan, maupun kedekatan yang lebih personal, akan diuji oleh kenyataan bahwa kami harus kembali pada rutinitas yang dulu pernah membuat sebagian dari kami perlahan menjauh satu sama lain. Tetapi kali ini saya memilih menyimpan harapan yang lebih tenang daripada kekhawatiran itu. Sebab jika ekoteologi mengajarkan apa pun tentang laut, ia mengajarkan bahwa apa yang tumbuh di ruang yang paling tidak menjanjikan kestabilan sekalipun, bisa tetap bertahan, bukan karena ruang itu sendiri, melainkan karena kesediaan manusia untuk terus memilih hadir bagi satu sama lain, bahkan setelah ruang itu berubah menjadi daratan yang penuh dengan tuntutan dan jarak.
Saya kira, pada akhirnya, memoar ini tidak benar-benar tentang Flores, tentang laut, atau bahkan tentang ekoteologi sebagai kerangka berpikir. Ia tentang bagaimana sebuah perjalanan fisik, jika dijalani dengan cukup sabar, bisa menjadi metafora bagi perjalanan yang jauh lebih personal, perjalanan menuju kesediaan untuk memikul amanah tanpa jaminan hasilnya, kesediaan untuk membiarkan diri dibentuk oleh sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri, dan kesediaan untuk percaya bahwa apa yang pernah hilang, dalam waktu dan cara yang tidak pernah bisa direncanakan, bisa saja dikembalikan.
Barangkali itulah yang dimaksud dengan ekoteologi, jika harus diringkas dalam satu kalimat yang cukup rendah hati untuk tidak berpura-pura menyelesaikan semua yang belum selesai: bahwa perjalanan yang paling jauh sering kali justru membawa kita kembali kepada hati sendiri, dan bahwa hati itu, seperti alam yang kami lalui, tidak pernah benar-benar diam. Ia hanya menunggu untuk didengarkan dengan lebih tenang.
Dan pada penghujung tulisan ini, saya ingin menitipkan satu hal yang tidak sepenuhnya bersifat akademik: rasa syukur. Syukur kepada Allah SWT yang menuntun setiap langkah dalam perjalanan ini. Syukur kepada keluarga besar Muhibah dan Studi Budaya Lintas Flores yang menjadikan pengalaman ini mungkin untuk dijalani bersama. Dan syukur, secara paling personal, atas kesempatan kedua yang tidak pernah saya minta, tetapi tetap diberikan, di tengah laut, di tengah orang-orang, dan di tengah alam yang, ternyata, selama ini tidak pernah benar-benar diam.
Penulis : Gunawan Hatmin S.Ag. M.Ag
Prolog: Amanah yang Mengangkat Berat
