Maros – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Pemberdayaan Desa Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) sukses melaksanakan pelatihan Bahasa Mandarin yang dipadukan dengan pengenalan seni gunting kertas tradisional Tiongkok (Jianzhi) bagi anak-anak sekolah dasar di Desa Tenrigangkae, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Kegiatan bertajuk "Pengenalan Bahasa Mandarin dan Seni Jianzhi sebagai Upaya Meningkatkan Minat Belajar Bahasa dan Budaya Tiongkok Sejak Dini" ini merupakan program kerja individu mahasiswa Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok Universitas Hasanuddin sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat melalui pendidikan bahasa asing dan pengenalan budaya internasional.
Program ini diikuti oleh puluhan siswa sekolah dasar dengan suasana belajar yang interaktif, kreatif, dan menyenangkan. Melalui pendekatan belajar sambil bermain, peserta diajak mengenal Bahasa Mandarin sekaligus memahami salah satu warisan budaya Tiongkok.
Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan minat anak-anak dalam mempelajari Bahasa Mandarin sejak usia dini. Selain menjadi salah satu bahasa yang paling banyak digunakan di dunia, Bahasa Mandarin juga memiliki peran penting dalam bidang pendidikan, ekonomi, budaya, hingga dunia kerja sehingga dapat menjadi bekal berharga bagi generasi muda dalam menghadapi perkembangan global.
Pelatihan dilaksanakan dalam tiga pertemuan. Pada pertemuan pertama, peserta diperkenalkan dengan kosakata dasar Bahasa Mandarin, seperti salam, angka, warna, serta cara memperkenalkan diri. Pertemuan kedua difokuskan pada penguatan materi melalui latihan pengucapan, permainan edukatif, dan percakapan sederhana guna meningkatkan kepercayaan diri peserta dalam menggunakan kosakata yang telah dipelajari.
Sementara itu, pada pertemuan ketiga, peserta diajak mengenal dan mempraktikkan seni Jianzhi, yaitu seni gunting kertas tradisional Tiongkok yang telah diwariskan secara turun-temurun. Dalam kegiatan tersebut, anak-anak belajar melipat, menggunting, dan membentuk berbagai pola sederhana sambil mengenal makna budaya yang terkandung di balik setiap karya yang dihasilkan.
Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa KKN-T Unhas memanfaatkan berbagai media pembelajaran, seperti kartu kosakata, permainan interaktif, lagu sederhana, serta praktik langsung pembuatan Jianzhi. Metode pembelajaran yang variatif dan menyenangkan membuat peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi hingga kegiatan berakhir.
Melalui program ini, mahasiswa berharap anak-anak Desa Tenrigangkae tidak hanya memiliki pengalaman belajar yang menyenangkan, tetapi juga semakin tertarik mempelajari Bahasa Mandarin serta memahami pentingnya menghargai keberagaman budaya dunia sejak dini. Diharapkan, pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama kegiatan dapat menjadi bekal dalam mengembangkan wawasan global, kreativitas, serta kemampuan berkomunikasi di masa depan.
