Wajo – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Inovasi Desa Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) melaksanakan kegiatan sosialisasi dan demonstrasi pembuatan arang briket dari limbah tempurung kelapa di Kantor Desa Marannu, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo.
Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pemanfaatan limbah tempurung kelapa menjadi arang briket sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan serta memiliki nilai ekonomi.
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai penerapan ilmu kimia dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pemaparannya, mahasiswa menjelaskan bahwa ilmu kimia tidak hanya dipelajari di laboratorium, tetapi juga hadir dalam berbagai aktivitas masyarakat.
"Bapak dan Ibu, sebenarnya ilmu kimia sangat dekat dengan kehidupan kita. Saat memasak, mencuci, membakar kayu, hingga mengolah limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat, semuanya melibatkan proses kimia. Jadi, kimia bukan hanya dipelajari di laboratorium, tetapi juga dapat diterapkan untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan di sekitar kita," ujar salah seorang mahasiswa KKN.
Melalui penjelasan tersebut, masyarakat diajak memahami bahwa pembuatan arang briket merupakan salah satu penerapan ilmu kimia melalui proses karbonisasi, yaitu proses mengubah tempurung kelapa menjadi arang berkualitas yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan arang briket. Mahasiswa memperagakan setiap tahapan proses, mulai dari pembakaran tempurung kelapa menjadi arang, penghalusan arang, pencampuran dengan bahan perekat, hingga proses pencetakan briket.
Selama kegiatan berlangsung, masyarakat tampak antusias mengikuti setiap tahapan demonstrasi. Peserta juga aktif berdiskusi mengenai manfaat arang briket serta peluang pengembangannya sebagai produk bernilai ekonomi yang dapat diproduksi oleh masyarakat desa.
Pada sesi tanya jawab, salah seorang warga menanyakan kemungkinan pemanfaatan limbah selain tempurung kelapa sebagai bahan baku arang briket.
"Selain tempurung kelapa, apakah ada limbah lain yang juga bisa dimanfaatkan untuk membuat arang briket?" tanya seorang peserta.
Menanggapi pertanyaan tersebut, mahasiswa menjelaskan bahwa arang briket dapat dibuat dari berbagai jenis limbah biomassa yang memiliki kandungan lignoselulosa, seperti kulit buah kakao, serbuk gergaji, sekam padi, tongkol jagung, tempurung kemiri, serta berbagai limbah pertanian lainnya. Pemanfaatan limbah tersebut dinilai mampu mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus menghasilkan bahan bakar alternatif yang bernilai ekonomis.
Dalam sesi diskusi, Kepala Desa Marannu memberikan apresiasi terhadap program yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin.
"Program seperti ini sangat baik karena mampu mengubah limbah yang selama ini kurang dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai jual. Harapan kami, arang briket ini dapat dikembangkan menjadi salah satu potensi UMKM Desa Marannu sehingga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dan menjadi produk unggulan desa," ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Tematik Inovasi Desa Gelombang 116 Universitas Hasanuddin berharap masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam mengolah limbah tempurung kelapa menjadi arang briket, tetapi juga semakin memahami bahwa ilmu kimia dapat diterapkan secara sederhana untuk menciptakan inovasi berbasis sumber daya lokal.
Ke depan, pemanfaatan limbah biomassa menjadi arang briket diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dalam pengelolaan limbah, mendukung penggunaan energi alternatif yang ramah lingkungan, serta membuka peluang usaha baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Marannu.
