![]() |
| Gambar: Muh. Kurniansyah Ketua Bidang Perdagangan dan Perindustrian HMI Cabang Gowa Raya (Dok. Istimewa) |
Opini, Dark Tenggara — Pertumbuhan industri kerap dianggap sebagai tanda kemajuan ekonomi. Investasi masuk, perusahaan tumbuh, produksi meningkat dan lapangan kerja terbuka. Namun, ada hal yang harus diperhatikan ketika industri tumbuh, apakah ekonomi lokal otomatis ikut tumbuh?
Pertanyaan ini bukan tanpa dasar. Dalam Dialog Publik “Industrialisasi Berkelanjutan dan Penguatan Ekonomi Lokal: Peluang dan Tantangan Kabupaten Gowa” yang digelar HMI Cabang Gowa Raya, muncul beragam perspektif dari pemerintah, dunia usaha dan akademisi mengenai tantangan industrialisasi daerah. Salah satu hal yang mengemuka adalah pentingnya membangun keterhubungan antara pertumbuhan industri dan kekuatan ekonomi lokal.
Industrialisasi yang sehat tidak cukup diukur dari jumlah investasi atau perusahaan yang berdiri. Ukuran yang lebih substantif adalah seberapa kuat keterkaitan industri dengan tenaga kerja lokal, UMKM, IKM, pemasok, perdagangan dan jasa pendukung. Ketika sebagian besar kebutuhan industri masih dipenuhi dari luar daerah, aktivitas industri dapat tumbuh tanpa menciptakan efek pengganda yang optimal bagi ekonomi lokal.
Di sinilah agenda industrialisasi nasional, termasuk hilirisasi dan penguatan rantai pasok, perlu diterjemahkan ke dalam kepentingan daerah. Gowa jangan hanya menjadi tempat berlangsungnya aktivitas produksi, tetapi harus mampu menangkap nilai tambah dari proses industrialisasi tersebut.
Kabupaten Gowa memiliki posisi strategis dalam aktivitas perdagangan, industri, logistik dan distribusi di Sulawesi Selatan. Namun, posisi strategis tidak otomatis menjadikan masyarakat lokal sebagai penerima manfaat utama. Persoalannya bukan sekadar berapa banyak industri dan investasi yang hadir, melainkan seberapa besar nilai ekonomi yang tercipta dan berputar di dalam Gowa.
Karena itu, pemerintah daerah perlu bergerak dari paradigma sekadar menarik investasi menuju membangun ekosistem industri lokal. Pemetaan rantai pasok, kemitraan industri dengan UMKM dan IKM, penguatan kompetensi tenaga kerja, pengembangan industri pengolahan, serta penguatan sektor logistik dan pergudangan perlu menjadi bagian dari agenda pembangunan.
UMKM tidak cukup hanya dibina melalui pelatihan dan bantuan. Mereka harus memiliki akses terhadap pasar dan rantai pasok industri. Demikian pula tenaga kerja lokal tidak cukup hanya diberikan pelatihan, tetapi harus dipersiapkan berdasarkan kebutuhan nyata dunia industri.
Karena itu, arah kebijakan industrialisasi Gowa tidak cukup berorientasi pada peningkatan investasi, tetapi harus memastikan terbentuknya keterkaitan ekonomi lokal melalui penyerapan tenaga kerja, kemitraan dengan UMKM/IKM, penguatan rantai pasok, serta peningkatan nilai tambah. Investasi bukan sekadar modal yang masuk, melainkan instrumen untuk memperkuat kapasitas produksi dan daya saing daerah.
Keberhasilan industrialisasi tidak semata diukur dari jumlah industri atau besaran investasi, tetapi dari sejauh mana aktivitas industri menciptakan efek pengganda ekonomi dan mendistribusikan nilai tambah kepada masyarakat lokal.
Author: Muh. Kurniansyah
