![]() |
| Tim PKM RE 2026 Unhas (Dok. Pribadi ) |
Makassar, Dark Tenggara — Mahasiswa Universitas Hasanuddin melalui Program Kreativitas Mahasiswa-Riset Eksakta (PKM-RE) 2026 mengembangkan sebuah sistem penghantaran obat berbasis dual-function sublingual microneedles (DFMs) yang dirancang untuk menghantarkan sofosbuvir secara lebih selektif ke hati sekaligus memberikan perlindungan antioksidan.
Riset ini ditujukan untuk mengoptimalkan pengobatan Hepatitis C, yakni infeksi virus yang menyerang organ hati dan berisiko berkembang menjadi komplikasi serius seperti sirosis hingga karsinoma hati.
Berdasarkan data World Health Organization (WHO) tahun 2025, terdapat sekitar 50 juta orang hidup dengan Hepatitis C di seluruh dunia, disertai 1 juta kasus infeksi baru setiap tahunnya. Di Indonesia, penyakit ini memberikan beban kesehatan yang signifikan dengan jumlah penderita mencapai 2,5 juta orang pada tahun 2023.
Sofosbuvir (SOF) sebagai terapi lini pertama Hepatitis C memang efektif menghambat replikasi virus, namun pemberian oral memiliki keterbatasan berupa bioavailabilitas di hati yang rendah akibat permeabilitas usus yang terbatas.
Selain itu, karakteristik farmakokinetik SOF yang memiliki volume distribusi luas menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan sistem penghantaran yang lebih terarah. Kondisi tersebut mendorong tim untuk mengeksplorasi strategi penghantaran yang dapat meningkatkan distribusi obat ke jaringan hati sekaligus meminimalkan potensi efek samping pada jaringan non-target.
Berangkat dari permasalahan tersebut, tim mahasiswa Universitas Hasanuddin mengembangkan formulasi DFMs yang dirancang untuk menghantarkan SOF secara lebih selektif ke organ hati sekaligus menekan efek samping berupa peningkatan reactive oxygen species (ROS).
Tim ini diketuai oleh Nun Salsabila Maddeppungeng (Farmasi 2023), bersama Utari Taqiyyah Abdullah (Farmasi 2023), Mir Atul Ghinayah A. (Farmasi 2023), Andi Nurcholifah Tri Handayani (Farmasi 2024), dan Rifqie Taesir (Kedokteran 2023), di bawah bimbingan apt. Alghifary Anas Achmad, S.Si., M.Si.
“DFMs kami dirancang untuk diaplikasikan secara sublingual menggunakan aplikator tiga dimensi berbahan polylactic acid (PLA). Sistem ini dapat melarut dalam waktu 30 detik dan memungkinkan obat dihantarkan melalui jaringan vaskular sublingual tanpa melalui metabolisme lintas pertama,” ujar Nun.
Sementara itu, tim peneliti menjelaskan bahwa sistem ini mengombinasikan lactosylated nanoparticles (Lact-NS) yang secara spesifik menargetkan asialoglycoprotein receptor (ASGPR) pada sel hati, serta alfa-tokoferol (TKF) yang berfungsi sebagai antioksidan kuat untuk menekan pembentukan ROS akibat paparan obat.
Penelitian dilakukan melalui serangkaian tahapan, mulai dari pengembangan formulasi dan karakterisasi fisika-kimia hingga pengujian pelepasan dan permeasi obat. Tim juga melakukan pengujian aktivitas antioksidan, molecular docking, serta berbagai uji keamanan, termasuk hemolisis, HET-CAM, dan histopatologi.
Seluruh rangkaian penelitian dilakukan dengan memperhatikan aspek keamanan dan telah memperoleh kelayakan etik dari Komisi Etik Fakultas Farmasi Unhas.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa sediaan tidak menimbulkan iritasi dan memiliki persentase hemolisis kurang dari 5%. Hasil uji in vivo menunjukkan bahwa pemberian SOF melalui DFMs menghasilkan akumulasi SOF di jaringan hati yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan pemberian SOF secara oral konvensional.
Anggota tim riset, Utari Taqiyyah Abdullah, menuturkan bahwa gagasan ini berawal dari kegelisahan mereka terhadap beban berat yang harus ditanggung pasien hepatitis C akibat efek samping pengobatan konvensional.
“Gagasan ini berawal dari keinginan kami untuk mengembangkan sistem penghantaran obat yang lebih terarah. Fokus utama kami adalah memastikan obat dapat mencapai hati secara lebih selektif sekaligus memberikan perlindungan terhadap stres oksidatif. Kami berharap hasil riset ini dapat menjadi salah satu kontribusi bagi pengembangan bioteknologi farmasi di Indonesia,” ungkap Utari.
Riset ini didanai oleh Belmawa dan Perguruan Tinggi (Universitas Hasanuddin) serta dilaksanakan di Laboratorium Farmasetika dan Biofarmasi Fakultas Farmasi Unhas sejak Juni 2026. Edukasi mengenai riset dan kesadaran Hepatitis C juga disebarluaskan secara aktif melalui media sosial resmi tim di Instagram (@hempashcv_re) dan TikTok (@hempashcv.re).
“Bersama DFMs, kami berharap dapat mewujudkan langkah nyata dalam memutus rantai dampak penyakit Hepatitis C dan menghadirkan terapi alternatif yang aman bagi masyarakat,” tutup Mir Atul Ghinayah.
