SELAMAT DATANG DI
DARKTENGGARA
PORTAL MEDIA NASIONAL
Mengungkap Fakta  •  Menerangi Kebenaran
Tamsil Linrung (Sumber: Aktual News)

‎Maros -  Tamsil Linrung memberikan penjelasan terkait polemik yang menyeret namanya dalam persoalan Pesantren Darul Istiqamah Maccopa. Penjelasan tersebut disampaikan melalui tulisan berjudul “Menjernihkan Duduk Perkara Pesantren Darul Istiqamah Maccopa” sebagai tanggapan atas pernyataan Dewan Pembina dan Pimpinan Pesantren Darul Istiqamah Pusat yang sebelumnya beredar melalui kanal YouTube.

‎Dalam tulisannya, Tamsil menyatakan bahwa dirinya keberatan terhadap sejumlah tuduhan yang menurutnya telah diarahkan kepadanya tanpa disertai bukti konkret. Ia menilai persoalan yang sebelumnya menjadi ranah internal telah berkembang ke ruang publik sehingga perlu diberikan penjelasan agar masyarakat memperoleh konteks yang lebih utuh.
‎
‎Tamsil menjelaskan bahwa hubungannya dengan keluarga besar Darul Istiqamah telah berlangsung sejak dirinya masih menjadi mahasiswa. Ia menyebut pesantren tersebut sebagai salah satu tempat yang memiliki arti penting dalam perjalanan keislaman dan intelektualnya.
‎
‎Menurut Tamsil, kedekatannya dengan Ustadz Muzayyin Arif juga bermula dari hubungan dengan kakaknya, Ustadz Dr. Mudzakkir Arif. Ia menyebut Mudzakkir yang memperkenalkan Muzayyin kepadanya dan meminta agar adiknya dibantu mengembangkan potensinya.
‎
‎“Atas amanah itu, saya menunjuk Muzayyin menjadi Tenaga Ahli saya di DPR RI,” tulis Tamsil dalam penjelasannya. Ia juga menyebut pernah memberikan kesempatan kepada Muzayyin untuk mengelola institusi pendidikan Insan Cendekia Madani (ICM) di Serpong, Tangerang.
‎
‎Tamsil kemudian membantah anggapan bahwa kedekatannya dengan keluarga Darul Istiqamah sejak awal memiliki motif untuk menguasai pesantren. Ia juga menyinggung keterlibatan sejumlah anggota keluarga ahli waris dalam perusahaan travel haji dan umrah yang pernah didirikannya.
‎
‎Dalam tulisannya, Tamsil turut menanggapi tudingan mengenai keinginannya membangun rumah di atas tanah pesantren serta klaim bahwa dirinya pernah menyebut Pesantren Darul Istiqamah sebagai miliknya. Ia menyatakan tidak pernah memiliki rumah pribadi maupun alas hak atas tanah pesantren tersebut.
‎
‎Terkait persoalan keuangan pesantren, Tamsil mengungkapkan bahwa dirinya pernah menerima permintaan bantuan dari almarhum K.H. Arif Marzuki ketika pesantren menghadapi persoalan keuangan. Ia menyebut saat itu sertifikat tanah pesantren sempat ditawarkan sebagai jaminan utang, namun menurut pengakuannya tawaran tersebut ditolak.
‎
‎“Jangan, Ustadz. Ini murni lillahi ta'ala. Tanah pesantren tidak boleh diagunkan kepada siapa pun, termasuk kepada saya,” demikian kutipan yang dituliskan Tamsil dalam risalahnya.
‎
‎Selain persoalan bantuan keuangan, Tamsil juga mengungkap keterlibatannya dalam pembangunan Gedung Olahraga dan Pertemuan (GOR) multifungsi di lingkungan Darul Istiqamah. Ia menyebut dirinya ikut memperjuangkan anggaran APBN sekitar Rp2,5 miliar untuk pembangunan tersebut.
‎
‎Namun, menurut Tamsil, pengerjaan proyek di lapangan kemudian menghadapi persoalan. Ia menyatakan hasil audit inspektorat menunjukkan progres fisik bangunan berada di bawah nilai anggaran yang telah dikucurkan.
‎
‎Tamsil mengaku kemudian kembali menggunakan dana pribadinya dengan nilai mendekati Rp1 miliar untuk menutup kekurangan pembangunan tersebut hingga bangunan dapat diselesaikan. Ia menyebut langkah tersebut dilakukan karena merasa memiliki tanggung jawab terhadap pesantren dan hubungan yang telah terjalin selama puluhan tahun.
‎
‎Melalui penjelasan tersebut, Tamsil menegaskan bahwa hubungan panjangnya dengan keluarga besar Darul Istiqamah menurut versinya dibangun atas dasar silaturahmi, pendidikan, dakwah, dan bantuan ketika pesantren menghadapi persoalan.
‎
‎Ia meminta agar berbagai tuduhan terhadap dirinya tidak hanya dibangun berdasarkan tafsir atas peristiwa masa lalu, tetapi diuji berdasarkan fakta dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
‎
‎“Jika hendak disebut persekongkolan (atau persekutuan), yang dibutuhkan adalah bukti, bukan prasangka,” tulisnya.
‎
‎Tamsil juga menyatakan bahwa tulisannya tersebut bukan dimaksudkan untuk memperpanjang konflik, melainkan sebagai upaya memberikan penjelasan atas persoalan yang telah berkembang ke ruang publik.