![]() |
| Potret Akbar Pelayati (Dokumentasi Pribadi) |
Kolaka Utara, Darktenggara.com — Membangun budaya baca tidak selalu harus dimulai dari gedung perpustakaan yang megah. Buku dapat hadir di halaman masjid, taman kota, ruang berkumpul mahasiswa, hingga sudut-sudut ruang publik yang menjadi tempat masyarakat beraktivitas. Gagasan inilah yang tercermin dalam gerakan literasi Tenggara Reading House (TRH), komunitas yang didirikan Akbar Pelayati di Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara.
Melalui gerakan literasi berbasis komunitas, Akbar berupaya mendekatkan buku kepada masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa. Kegiatan seperti Lapak Baca, Gerobak Baca, dan diskusi buku menjadi alternatif untuk memperkenalkan aktivitas membaca di luar lingkungan pendidikan formal.
Membawa Buku Lebih Dekat kepada Masyarakat
Salah satu tantangan dalam membangun budaya literasi adalah menjadikan membaca sebagai kebiasaan yang tumbuh dari kesadaran masyarakat, bukan sekadar kegiatan yang dilakukan karena tuntutan sekolah atau perkuliahan.
Dalam konteks tersebut, ruang publik memiliki potensi sebagai tempat bertemunya buku, gagasan, dan masyarakat. Lapak baca yang digelar secara terbuka memberikan kesempatan kepada orang-orang untuk mengakses bacaan, berbincang, dan membangun interaksi intelektual dalam suasana yang lebih santai.
Pada 25 Maret 2026, Tenggara Reading House menggelar kegiatan Lapak Baca di kawasan Masjid Agung Kolaka Utara. Kegiatan tersebut menyediakan akses bacaan bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat. Pemberitaan mengenai kegiatan ini menunjukkan bahwa gerakan literasi TRH tidak hanya berorientasi pada penyediaan buku, tetapi juga pada upaya menghadirkan aktivitas membaca di tengah kehidupan sehari-hari.
Literasi sebagai Gerakan Kolektif
Gerakan literasi berbasis komunitas membutuhkan lebih dari sekadar koleksi buku. Ia memerlukan keterlibatan relawan, keberlanjutan kegiatan, ruang diskusi, dan kemampuan membangun partisipasi masyarakat.
Tenggara Reading House mengembangkan pendekatan tersebut melalui kegiatan membaca bersama dan diskusi buku. Pada Agustus 2026, komunitas ini juga diberitakan mengadakan kegiatan Literasi on The Roof, yang menggabungkan membaca dan diskusi buku dalam suasana berbeda.
Pendekatan semacam ini memperlihatkan kemungkinan pengembangan literasi yang lebih terbuka. Membaca tidak hanya dipahami sebagai aktivitas individual, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk berdialog, bertukar pandangan, dan memperluas wawasan.
Meski demikian, keberhasilan gerakan literasi tidak cukup diukur dari jumlah kegiatan yang diselenggarakan. Dampak yang lebih mendasar perlu dilihat dari pertumbuhan partisipasi pembaca, keterlibatan relawan, akses masyarakat terhadap buku, dan keberlanjutan kebiasaan membaca setelah kegiatan berlangsung.
Pengakuan terhadap Inisiatif Komunitas
Pada 1 Juni 2026, Koran Sultra memberitakan bahwa Tenggara Reading House lolos dalam program Ruang Iqro dari Komang Foundation. Capaian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa inisiatif komunitas ini memperoleh pengakuan melalui program pengembangan literasi.
Namun, capaian tersebut perlu ditempatkan secara tepat sebagai prestasi komunitas, bukan penghargaan individu kepada Akbar Pelayati. Untuk menilai kontribusi personal pendirinya secara lebih utuh, diperlukan informasi mengenai peran Akbar dalam perencanaan program, pengelolaan relawan, pengembangan koleksi bacaan, dan keberlanjutan kegiatan.
Data tentang jumlah peserta, frekuensi kegiatan, buku yang tersedia, serta penerima manfaat juga penting untuk menunjukkan sejauh mana gerakan ini memberikan perubahan bagi masyarakat Kolaka Utara.
Menyalakan Harapan dari Gerakan Kecil
Kisah Tenggara Reading House memberikan gambaran bahwa upaya memperluas akses literasi dapat dimulai melalui inisiatif masyarakat. Gerakan yang tumbuh dari komunitas memungkinkan anak muda mengambil peran dalam menghadirkan ruang belajar alternatif, membangun interaksi intelektual, dan memperkenalkan buku kepada kelompok masyarakat yang lebih luas.
Akbar Pelayati dan Tenggara Reading House menjadi salah satu contoh inisiatif yang patut ditelusuri dalam perkembangan gerakan literasi di Kolaka Utara. Perjalanan komunitas ini juga membuka ruang untuk membicarakan pentingnya dukungan terhadap relawan, ketersediaan bahan bacaan, kolaborasi lintas komunitas, dan penguatan ekosistem literasi di tingkat lokal.
Akhirnya, membawa buku ke ruang publik bukan sekadar memindahkan tempat membaca. Gagasan yang lebih besar adalah membuka kesempatan agar pengetahuan dapat dijangkau lebih banyak orang dan percakapan intelektual menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
