![]() |
| Potret Akbar Pelayati (Dokumentasi Istimewa) |
KOLAKA UTARA — Membangun budaya membaca bukan perkara menyediakan buku semata. Tantangan yang lebih besar adalah membuat orang tertarik untuk datang, membaca, berdiskusi, lalu menjadikan pengetahuan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Di tengah tantangan itulah Akbar Pelayati mengembangkan gerakan literasi melalui Tenggara Reading House (TRH).
Komunitas yang didirikannya tersebut menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari Lapak Baca hingga Gerobak Baca. Pendekatan ini berupaya membawa bacaan lebih dekat kepada masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa, melalui ruang yang lebih terbuka dan tidak terbatas pada perpustakaan formal.
Upaya tersebut memperoleh perkembangan baru pada 2026. Tenggara Reading House diberitakan lolos program Ruang Iqro yang diselenggarakan Komang Foundation. Capaian itu menjadi peluang bagi komunitas tersebut untuk mengembangkan gerakan literasi yang telah dirintisnya di Kolaka Utara.
Namun, capaian sebuah komunitas tidak cukup diukur dari keberhasilan mengikuti program. Pertanyaan yang lebih penting adalah sejauh mana kegiatan yang dilakukan mampu menumbuhkan kebiasaan membaca, memperluas akses terhadap buku, dan membangun ruang diskusi yang berkelanjutan.
Membawa buku keluar dari ruang formal
Salah satu pendekatan TRH terlihat melalui kegiatan Literasi on The Roof pada Agustus 2026. Dalam kegiatan tersebut, membaca dan berdiskusi dilakukan di atas atap bangunan, berkolaborasi dengan Mahasiswa Pencinta Alam dan Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara.
Konsep ini memperlihatkan upaya menghadirkan pengalaman membaca dengan suasana berbeda. Buku tidak hanya ditempatkan sebagai bahan belajar di ruang kelas atau perpustakaan, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk membangun percakapan dan pertukaran gagasan di kalangan anak muda.
TRH juga menggelar Lapak Baca dan diskusi buku di Taman Literasi dan Adipura Kolaka Utara pada Agustus 2026. Kegiatan tersebut memanfaatkan ruang publik sebagai tempat masyarakat mengakses bacaan sekaligus membicarakan gagasan yang ditemukan dalam buku.
Rangkaian kegiatan itu memperlihatkan bahwa gerakan literasi dapat dikembangkan melalui cara-cara kreatif dan kolaboratif. Akan tetapi, keberlanjutan gerakan tetap membutuhkan keterlibatan peserta, ketersediaan bahan bacaan, dukungan relawan, dan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Dari inisiatif komunitas menuju gerakan yang berdampak
Bagi gerakan literasi daerah, tantangan berikutnya bukan hanya menyelenggarakan kegiatan, melainkan membangun kesinambungan. Lapak baca yang ramai pada satu kesempatan belum otomatis menunjukkan meningkatnya minat baca masyarakat secara jangka panjang.
Karena itu, perjalanan TRH membuka ruang untuk membicarakan persoalan yang lebih luas: bagaimana komunitas independen mempertahankan kegiatannya, memperluas jangkauan pembaca, dan mengukur dampak program secara nyata?
Sejumlah hal dapat menjadi tolok ukur, seperti pertumbuhan jumlah anggota aktif, frekuensi kegiatan, jumlah buku yang dapat diakses, keterlibatan sekolah dan kampus, serta pengalaman peserta setelah mengikuti kegiatan. Data tersebut penting agar keberhasilan gerakan tidak hanya dinilai melalui dokumentasi acara atau pemberitaan.
Di sisi lain, kolaborasi dengan komunitas mahasiswa dan pihak pendukung dapat menjadi modal untuk memperluas jangkauan. Tantangannya adalah memastikan kolaborasi tersebut berkembang menjadi kerja bersama yang berkelanjutan, bukan sekadar pertemuan sesaat.
Pekerjaan rumah literasi di daerah
Kisah Akbar Pelayati dan TRH dapat dibaca sebagai bagian dari upaya anak muda daerah membangun ruang belajar alternatif. Inisiatif semacam ini penting karena budaya literasi tidak tumbuh hanya melalui kebijakan atau pembangunan fasilitas, tetapi juga melalui kebiasaan membaca, percakapan, dan keterlibatan masyarakat.
Meski demikian, gerakan komunitas tidak dapat dibebani sendirian untuk menyelesaikan persoalan literasi. Dukungan sekolah, keluarga, pemerintah, perguruan tinggi, perpustakaan, dan masyarakat tetap dibutuhkan agar akses bacaan dan kesempatan belajar semakin luas.
Ke depan, pertanyaan yang layak diajukan kepada Akbar bukan semata-mata tentang berapa banyak kegiatan yang telah diselenggarakan. Lebih jauh, bagaimana ia dan TRH memastikan kegiatan itu benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan? Apa kendala terbesar yang dihadapi? Dan perubahan apa yang sudah dapat dibuktikan sejak komunitas tersebut mulai bergerak?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang dapat membawa kisah ini melampaui profil personal. Sebab, nilai sebuah gerakan literasi pada akhirnya tidak hanya terletak pada siapa yang memulainya, tetapi juga pada pengetahuan yang berhasil dibagikan, masyarakat yang terlibat, dan kebiasaan baik yang mampu bertahan.
Bagi Kolaka Utara, tantangannya bukan sekadar menghadirkan kegiatan membaca, melainkan membangun ekosistem yang membuat membaca, menulis, dan berdiskusi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Di situlah perjalanan Tenggara Reading House dan Akbar Pelayati layak terus diikuti.
