![]() |
| Potret Akbar Pelayati |
Keterlibatannya dalam Tenggara Reading House (TRH) menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang belajar alternatif bagi masyarakat. Melalui kegiatan literasi berbasis komunitas, gerakan ini berupaya mendekatkan buku kepada masyarakat sekaligus mendorong tumbuhnya kebiasaan membaca dan berdiskusi.
Bagi Akbar, literasi memiliki cakupan yang lebih luas daripada kemampuan membaca dan menulis. Literasi dapat menjadi sarana memperluas wawasan, membangun kesadaran kritis, dan membantu masyarakat memahami berbagai persoalan sosial di lingkungannya.
Menghubungkan Pengetahuan dan Pengabdian
Latar belakang pendidikan Akbar di bidang Aqidah dan Filsafat Islam, yang kemudian dilanjutkan melalui studi Magister Ilmu Antropologi di Universitas Hasanuddin, memberikan konteks akademik bagi perhatiannya terhadap manusia, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat.
Antropologi mempelajari manusia dalam konteks sosial dan kebudayaannya. Perspektif tersebut relevan untuk memahami bagaimana kegiatan membaca, solidaritas relawan, dan praktik pengabdian memperoleh makna dalam kehidupan komunitas.
Dalam gerakan literasi, buku bukan satu-satunya unsur penting. Interaksi antara relawan dan masyarakat, proses pertukaran pengetahuan, serta keterlibatan warga menjadi bagian dari dinamika sosial yang membentuk keberlangsungan komunitas.
Melalui Tenggara Reading House, kegiatan seperti Lapak Baca, Gerobak Baca, dan diskusi komunitas menjadi bentuk inisiatif untuk membuka ruang belajar di luar pendidikan formal.
Literasi sebagai Gerakan Sosial
Tenggara Reading House mengusung slogan “Mekar Bersama Literasi — Membangun Peradaban.” Semangat tersebut menempatkan literasi sebagai salah satu fondasi pengembangan sumber daya manusia dan partisipasi masyarakat.
Gerakan literasi berbasis komunitas memiliki tantangan tersendiri, mulai dari menjaga konsistensi relawan hingga memperluas akses bahan bacaan dan memastikan kegiatan tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Karena itu, pengembangan budaya literasi memerlukan keterlibatan banyak pihak. Komunitas, lembaga pendidikan, keluarga, pemerintah, dan masyarakat memiliki peran dalam membangun lingkungan yang mendukung proses belajar sepanjang hayat.
Bagi generasi muda, keterlibatan dalam gerakan semacam ini membuka kesempatan untuk berkontribusi terhadap pembangunan daerah melalui kerja kolektif dan inisiatif sosial.
Merawat Pengabdian dari Daerah
Perjalanan Akbar Pelayati dalam pendidikan dan gerakan literasi mempertemukan dua ruang yang saling berkaitan: kajian akademik mengenai manusia dan masyarakat, serta praktik sosial yang berlangsung di tengah komunitas.
Dari Kolaka Utara, gerakan literasi menjadi salah satu jalan untuk memperluas akses pengetahuan dan membangun ruang belajar bersama. Keberlanjutannya membutuhkan komitmen, evaluasi, dan dukungan kolektif agar manfaat kegiatan dapat dirasakan secara lebih luas.
Melalui Tenggara Reading House, Akbar mengambil bagian dalam upaya menumbuhkan budaya belajar di masyarakat. Semangat tersebut sejalan dengan gagasan bahwa pembangunan manusia tidak hanya berlangsung di ruang kelas atau perguruan tinggi, tetapi turut tumbuh melalui inisiatif warga dan gerakan sosial.
Literasi menjadi titik temu antara pengetahuan dan pengabdian—sebuah upaya yang berangkat dari komunitas untuk membuka kesempatan belajar dan merawat harapan bagi masa depan Kolaka Utara.
