![]() |
| Potret Akbar Pelayati |
Jakarta, Darktenggara.com — Akbar Pelayati, mahasiswa Magister Ilmu Antropologi Universitas Hasanuddin sekaligus penggerak literasi, menaruh harapan agar Kolaka Utara tumbuh menjadi daerah yang tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga maju dalam kualitas sumber daya manusia, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat.
Baginya, masa depan Kolaka Utara tidak cukup diukur dari pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Kemajuan daerah perlu ditopang oleh masyarakat yang memiliki akses terhadap pendidikan, budaya membaca yang kuat, daya kritis, serta kesempatan yang setara untuk mengembangkan potensi diri.
Melalui gerakan literasi yang dikembangkan bersama komunitas Tenggara Reading House, Akbar memandang bahwa perubahan sosial dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana: menghadirkan buku di tengah masyarakat, membuka ruang diskusi, mendampingi anak-anak belajar, dan menumbuhkan kesadaran bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama.
Ia berharap gerakan literasi di Kolaka Utara tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan berkembang menjadi gerakan sosial yang berkelanjutan. Komunitas, sekolah, keluarga, pemerintah, dan masyarakat sipil perlu membangun kolaborasi agar akses pengetahuan dapat menjangkau anak-anak di wilayah terpencil maupun kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan akses pendidikan.
Bagi Akbar, masa depan Kolaka Utara adalah tentang manusia yang tumbuh bersama daerahnya. Anak-anak harus memiliki kesempatan untuk bermimpi, generasi muda perlu mendapatkan ruang untuk berkarya, dan masyarakat harus dilibatkan dalam menentukan arah pembangunan yang menyentuh kebutuhan mereka.
Ia turut menaruh harapan agar generasi muda Kolaka Utara tidak hanya menjadi penonton dalam proses pembangunan. Pemuda perlu mengambil peran melalui gagasan, pengabdian, inovasi, dan keberanian menyampaikan kritik secara bertanggung jawab. Kritik terhadap kebijakan publik, menurut semangat yang ia dorong, merupakan bagian dari kepedulian terhadap masa depan daerah.
Di sisi lain, pembangunan juga perlu memberikan perhatian kepada masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses terhadap pendidikan, informasi, dan kesempatan ekonomi. Pemerataan pembangunan semestinya tidak hanya terlihat dalam laporan dan angka, tetapi dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Harapan tersebut berangkat dari keyakinan bahwa kemajuan daerah tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk komunitas akar rumput yang bekerja langsung bersama masyarakat.
Bagi Akbar Pelayati, Kolaka Utara yang dicita-citakan adalah daerah yang memberikan ruang bagi anak-anak untuk belajar, pemuda untuk berinisiatif, masyarakat untuk berpartisipasi, dan setiap warga untuk hidup dengan kesempatan yang lebih baik.
“Harapan saya, Kolaka Utara tidak hanya tumbuh menjadi daerah yang maju secara pembangunan, tetapi juga menjadi daerah yang maju dalam cara berpikir, kuat dalam solidaritas sosial, dan memberikan kesempatan kepada setiap generasi untuk berkembang. Sebab, pembangunan yang paling bermakna adalah pembangunan yang mampu memanusiakan manusia.”
Pada akhirnya, harapan untuk Kolaka Utara bukan semata-mata tentang seberapa cepat daerah berkembang, melainkan tentang siapa saja yang ikut merasakan manfaatnya. Dari literasi, pendidikan, kepedulian sosial, hingga partisipasi generasi muda, Akbar berharap tumbuh kesadaran kolektif bahwa masa depan Kolaka Utara merupakan tanggung jawab bersama.
