SELAMAT DATANG DI
DARKTENGGARA
PORTAL MEDIA NASIONAL
Mengungkap Fakta  •  Menerangi Kebenaran
Akbar Pelayati, Jaket Hitam Kemeja Biru (Dokumentasi Pribadi)

Jakarta, Darktenggara.com - Akbar Pelayati merupakan seorang penulis, penggerak literasi, dan aktivis muda yang memiliki perhatian terhadap pengembangan sumber daya manusia, pendidikan, serta kehidupan sosial masyarakat. Lahir di Pinrang pada 3 Januari 2003, Akbar menempuh pendidikan sarjana pada Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam di UIN Alauddin Makassar. Saat ini, ia tercatat sebagai mahasiswa Magister Ilmu Antropologi di Universitas Hasanuddin.

Ketertarikan Akbar terhadap dunia pemikiran dan gerakan sosial tumbuh melalui pengalaman pendidikan, aktivitas organisasi, dan keterlibatannya dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Baginya, pengetahuan tidak semestinya berhenti sebagai wacana akademik, tetapi perlu dihubungkan dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Latar belakang pendidikan filsafat menjadi salah satu landasan Akbar dalam memandang kehidupan sosial secara kritis dan reflektif. Filsafat memberinya ruang untuk mempertanyakan berbagai hal, menguji gagasan, dan memahami persoalan manusia dari sudut pandang yang lebih luas. Ketertarikan tersebut kemudian beririsan dengan kegiatan literasi dan pengabdian masyarakat.

Di Kolaka Utara, Akbar dikaitkan dengan gerakan Tenggara Reading House (TRH), sebuah komunitas yang bergerak dalam pengembangan budaya baca dan ruang belajar masyarakat. Melalui kegiatan seperti Lapak Baca, Gerobak Baca, dan diskusi buku, gerakan literasi ini berupaya menghadirkan aktivitas membaca di ruang-ruang publik.

Pendekatan tersebut menempatkan literasi bukan sekadar sebagai kemampuan membaca dan menulis, melainkan sebagai sarana membangun percakapan, memperluas wawasan, dan membuka kesempatan belajar bagi masyarakat. Kehadiran komunitas literasi menjadi salah satu alternatif untuk mempertemukan buku, pengetahuan, dan pengalaman sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Selain terlibat dalam gerakan sosial, Akbar memiliki perhatian terhadap dunia kepenulisan. Karya-karya yang dikaitkan dengannya mencakup tema filsafat, cinta, kehidupan, dan pengalaman sosial. Judul Filsafat Galau, Filsafat Cinta: Dari Plato ke Fromm, serta Ketika Sore Masih Punya Tawa tercatat dalam katalog penerbitan daring atas nama Akbar Pelayati.

Ketiga judul tersebut memperlihatkan rentang tema yang berbeda. Filsafat menjadi ruang untuk membicarakan pertanyaan mendasar tentang kehidupan, cinta menjadi pintu masuk untuk memahami relasi antarmanusia, sedangkan nostalgia membuka ruang refleksi terhadap perubahan pengalaman sosial antargenerasi.

Di luar judul-judul tersebut, Kota Demostran dan Nyanyian Sunyi dari Tanah Luka merupakan dua judul yang perlu ditelusuri lebih lanjut untuk memastikan status penerbitan dan informasi bibliografinya. Keduanya dapat dicatat dalam dokumentasi kepenulisan setelah data penerbitannya dikonfirmasi.

Bagi seorang penulis muda, kegiatan menulis dapat menjadi cara untuk mengolah pengalaman, menguji pemikiran, dan menyampaikan gagasan kepada publik. Melalui tulisan, persoalan yang semula hadir sebagai pengalaman individual dapat dibawa ke ruang diskusi yang lebih luas.

Akbar juga memiliki jejak keterlibatan dalam isu-isu publik di Kolaka Utara. Pemberitaan pada 2026 menyebut keterlibatannya dalam aksi yang dilakukan Forum Pemuda Mahasiswa Kolaka Utara (FPMKU) terkait persoalan investasi Kryocore Systems.

Keterlibatan tersebut menunjukkan adanya irisan antara aktivitas kepemudaan, penyampaian aspirasi, dan perhatian terhadap persoalan yang berkembang di masyarakat. Dalam membaca jejak semacam ini, penting untuk membedakan tuntutan demonstran, dugaan yang disampaikan dalam aksi, dan fakta yang telah dikonfirmasi melalui proses hukum.

Bagi gerakan mahasiswa dan pemuda, penyampaian aspirasi merupakan salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam mengawasi persoalan publik. Namun, kekuatan sebuah gerakan tidak hanya ditentukan oleh keberanian menyampaikan kritik, melainkan juga oleh ketepatan informasi, argumentasi yang dapat diuji, serta konsistensi dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Pilihan Akbar melanjutkan pendidikan pada bidang Ilmu Antropologi membuka ruang untuk memperdalam pemahaman tentang kebudayaan, identitas, relasi sosial, dan praktik kehidupan masyarakat. Antropologi memungkinkan persoalan sosial dipahami bukan semata-mata melalui angka atau kebijakan formal, tetapi juga melalui pengalaman, nilai, simbol, dan makna yang hidup dalam keseharian manusia.

Perspektif tersebut relevan dengan kegiatan literasi dan kerelawanan. Di balik aktivitas membaca bersama, misalnya, terdapat hubungan sosial, motivasi, nilai solidaritas, dan pemaknaan pengabdian yang dapat berbeda antara satu individu dan individu lainnya.

Pendekatan antropologis memberi kesempatan untuk memahami bagaimana sebuah gerakan sosial tumbuh, bagaimana para relawan membangun identitas kolektif, serta bagaimana nilai-nilai tertentu dipertahankan melalui praktik bersama. Dengan demikian, kegiatan literasi dapat dikaji sebagai praktik kebudayaan yang berhubungan dengan pendidikan, partisipasi sosial, dan pembentukan makna.

Sebagai mahasiswa pascasarjana, penulis, dan penggerak literasi, perjalanan Akbar Pelayati mempertemukan tiga ruang aktivitas: pendidikan, kepenulisan, dan gerakan sosial. Ketiganya memiliki titik temu pada upaya memahami persoalan masyarakat dan mengembangkan ruang bagi pertukaran pengetahuan.

Tantangan berikutnya adalah menjaga kesinambungan kegiatan, memperluas jangkauan gerakan literasi, memperkuat dokumentasi program, serta memastikan bahwa gagasan yang disampaikan melalui tulisan memiliki pijakan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Profil Akbar Pelayati dapat dibaca sebagai bagian dari cerita tentang keterlibatan anak muda dalam menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan sosial. Perjalanan tersebut masih berlangsung dan akan terus dibentuk oleh pengalaman, karya, serta kontribusinya dalam berbagai ruang masyarakat.

Pada akhirnya, literasi, pemikiran kritis, dan pengabdian bukanlah tiga hal yang berdiri sendiri. Ketiganya dapat saling menguatkan ketika pengetahuan tidak hanya digunakan untuk memahami dunia, tetapi turut menjadi bekal untuk berpartisipasi dalam memperbaiki kehidupan bersama.